Sabtu, 28 Juni 2014

ACARA KEBERSAMAAN YBPK GKPB 2014.


Acara kebersamaan YBPK GKPB merupakan acara yang dinanti-nanti setiap 2 (dua) tahun sekali. Selain sebagai ajang untuk bertukar pengalaman juga untuk mempererat tali persaudaraan antar guru, karyawan dan pengurus KPS.
Kegiatan apa saja yang telah dilakukan selama kegiatan kebersamaan tahun ini ?. Penulis akan coba memaparkan di postingan kali ini.


Kegiatan Kebersamaan yang diikuti oleh kurang lebih 210 peserta terdiri dari Guru, Karyawan, Pengurus KPS dari Bandung, Garut, Ciwidey, Palalangon, Cikembar, Karawang, Rangkasbitung, Purwakarta, Cideres, Sukabumi, Haurgeulis, Tamiyang, Jatiasih, Lembang, Cimahi, Kampung Sawah, Gunung Putri dan Bekasi. Juga ikut serta di dalam acara kebersamaan ini adalah Pembina, Pengawas dan Pengurus YBPK GKPB dan peserta tambahan dari Jatiranggon.

Acara dibuka dengan Ibadah Pembukaan melalui Doa dan Layanan Firman oleh Pdt. Aam Ramelan. Sebelum berangkat peserta menikmati makan malam bersama yang diharapkan saat diperjalanan peserta dapat tidur dengan nyaman. Sayang, Bus yang digunakan tidak sesuai harapan, tempat duduk terlalu kecil dan kurang nyaman, hal ini biasa terjadi saat musim liburan tiba. Terjadi kekosongan bus dimana-mana. Transit di SR daerah Ciamis. WC adalah tempat yang paling dicari setiap tempat transit, kedua adalah Kopi panas (bagi yang senang dengan kopi). Perjalanan kembali dilanjutkan setelah 30 menit beristirahat dan tiba di tempat Mandi dan Sarapan di salah satu local resto. Sayangnya saya tidak sempat menikmati menu sarapan di tempat ini karena harus tiba lebih dulu di University Hotel Yogyakarta untuk mempersiapkan segala sesuatu. Peserta nantinya akan langsung memasuki ruang ballroom untuk mengikuti workshop jadi segalanya harus dipastikan kesiapannya.

Workshop berjalan dengan baik, walaupun ada beberapa masukan-masukan yang tentunya akan diterima dengan baik untuk perbaikan kegiatan kedepan, tetapi minimal kegiatan ini dapat mempersatukan pandangan tentang rencana penerapan metode 4T di seluruh sekolah-sekolah YBPK GKPB dan semakin erat tali persaudaraan.

Beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait rencana penerapan metode 4T ini, ada yang bersikap pesimis maupun optimis. Namun dapat dimaklumi karena hingga saat ini baru 20 orang Guru yang sempat mengikuti pelatihan metode 4T selama 1 bulan di Salatiga beberapa waktu yang lalu, sehingga metode ini belum sepenuhnya dipahami.

GUA PINDUL


Tujuan Wisata pertama adalah Gua Pindul. yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Tempat wisata ini tergolong baru karena baru diresmikan pada 10 Oktober 2010 yang lalu. Tentunya beberapa peserta mungkin pernah mendengar bahkan pernah berkunjung ke tempat ini, namun karena sebagian besar belum pernah sehingga menjadi pertanyaan-pertanyaan sepanjang perjalanan. Ada apa di Gua Pindul ?.

Keseruan bagi peserta kebersamaan YBPK GKPB adalah saat turun dari Bus, karena harus menaiki mobil bak terbuka yang oleh warga setempat disebut "Pajero" untuk mencapai kantor manajemen Gua Pindul. Disinilah peserta diberikan pengarahan dari manajemen mengenai aturan-aturan yang harus ditaati peserta, termasuk penggunaan pelampung dan ban pelampung yang wajib dikenakan oleh peserta.

Pertanyaan-pertanyaan peserta akhirnya dapat terjawab saat mulai melakukan cave tubing (menyusuri Gua dengan menaiki ban pelampung). Menelusuri Gua dengan panjang 350 meter dengan lebar 5 meter dan jarak permukaan air dengan atap gua setinggi 4 meter, memakan waktu kurang lebih selama satu jam yang berakhir pada sebuah dam. Aliran sungai yang berada di dalam Gua Pindul berasal dari mata air Gedong Tujuh.



Aliran sungai bawah tanah dimulai dari mulut gua sampai bagian akhir gua, di dalam gua terdapat bagian sempit yang hanya bisa dilewati satu ban pelampung, sehingga peserta harus bergantian satu per satu untuk melewati bagian ini.

Ditengah Gua, ada sebuah ruangan yang agak besar dengan lubang diatasnya yang warga setempat menyebut sumur terbalik, sinar matahari yang masuk melalui lubang ini membuat suasana semakin indah.

Keindahan semakin lengkap dengan adanya ornamen disepanjang dinding Goa seperti mahakarya lukisan abstrak yang tak ternilai. Mata kristal Kelelawar bergelantungan menghiasi lorong goa. Terdapat tirai juga yang tersusun dari tetesan air di dinding Goa.
Saat menyusuri gua di Gua Pindul ini, terdapat sebuah stalagtit yang sudah menyatu dengan stalagmit sehingga tampak seperti sebuah pilar dengan ukuran lebar lima rentangan tangan orang dewasa (Soko Guru). Stalagtit dan Stalakmit yang menyatu ini menjadi yang terbesar ke-4 di dunia, butuh 5 orang untuk melingkarinya, bahkan celahnya hanya cukup dilewati satu orang saja. 

Menyusuri Gua Pindul adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Ada pesan yang disampaikan bahwa Sang Mahakarya tidak pernah melupakan keindahan yang amat dahsyat disetiap jengkal ciptaanNya.

PANTAI SUNDAK


Selepas menikmati keindahan Gua Pindul, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sundak. Sundak masuk dalam kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Dusun Pule Gundes. Sundak berdempetan dengan pantai lain seperti Kukup, Krakal, Drini, dan Baron. Pantai yang satu ini memiliki keunikan dibanding pantai-pantai lain di Yogyakarta. Nama pantai ini misalnya. Sebelumnya pantai Sundak bernama Wedimbedah, yang artinya pasir terbelah. Ini karena saat musim hujan air dari daratan mengalir ke pantai dan membelah pasir pantai layaknya sungai kecil. Nama pantai kemudian diubah pada sekitar tahun 1976. Jika biasanya nama pantai diambil dari kondisi atau mitosnya, nama Sundak justru terkenal karena perkelahian dua hewan: asu (anjing) dan landak. Perkelahian ini bukan perkelahian mitos seperti yang melatari nama Surabaya, melainkan benar-benar terjadi.

Di pantai inilah kemudian Peserta melakukan berbagai aktivitas seperti Games dan Doorprize. Cuaca panas sebagaimana layaknya wilayah pantai hampir tidak terasa karena semangat peserta untuk mengikuti berbagai kegiatan Games. Selebihnya peserta memilih untuk makan dan minum di warung-warung yang tersebar di sekitar pantai, atau berjalan-jalan di pinggir pantai yang indah. Kegiatan di Pantai Sundak, ditutup dengan foto bersama.




PURA WISATA (BALLET RAMAYANA)

Setelah berwisata ke Pantai Sundak, peserta kebersamaan melanjutkan perjalanan ke Pura Wisata untuk makan malam dan menyaksikan pertujukan Ramayana Ballet.

Purawisata telah dikenal luas oleh para wisatawan baik asing maupun lokal sebagai pusat rekreasi keluarga terpadu. Letaknya strategis dan mudah ditemukan, menempati area seluas 3,5 hektar di tengah kota, dekat dengan Kraton Yogyakarta dan pusat perbelanjaan di Malioboro.

Saat tiba di Purawisata, peserta makan malam di Gazebo Garden Restaurant yang mengusung konsep taman lanskap yang asri dan indah lengkap dengan air mancur. Restoran ini memiliki kapasitas hingga 1.500 orang dan tentunya bisa jadi tempat favorit untuk mengadakan pesta atau acara formal lainnya.


Setelah makan malam peserta memasuki ruang teater yaitu berupa panggung teater udara terbuka (outdoor) yang megah dan luas yang mampu menampung kapasitas penonton hingga 500 orang. Ramayana Ballet mempersembahkan pertunjukkan legendaris yang spektakuler yang telah sejak tahun 1976 hingga kini hadir setiap malam dengan ilusi yang menakjubkan, kostum mempesona, dikombinasikan dengan budaya kontemporer. Pertunjukan ini pernah mendapatkan rekor dari MURI tahun 2002 setelah mementaskan sendratari setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun tersebut.

Bagi peserta yang mungkin masih bingung dengan jalan cerita dari Ballet Ramayana, berikut penulis tuliskan kembali :

Sendratari Ramayana atau Ramayana Ballet adalah pertunjukan seni tari tanpa dialog yang menceritakan tentang cerita Ramayana karya Walmiki yang di ambil dari cerita legenda yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Cerita Ramayana juga di ambil berdasarkan cerita relief candi prambanan.

Karena tanpa dialog, maka Sinden yang akan menggambarkan jalan cerita para penari. Para penari dengan cantik , luwes dan penuh penjiwaan akan mengajak kita larut akan jalan cerita yang di kemas apik dan kolosal, tata rias para penari membuat kita bisa membedakan tokoh dan karakter pemain, penataan cahaya menambah atmosfer sakral di pertunjukan tersebut.


Cerita sendratari ramayana yang di ambil dari relief candi prambanan yang terukir pada candi siwa dan candi brahma bercerita tentang Rama Wijaya Putra Mahkota kerajaan Ayodya yang berhasil memenangkan sayembara untuk memperistri Dewi shinta putri prabu janaka dari negeri mantili. Di lain pihak Prabu Rahwana Raja Alengkadiraja sangat menginginkan memperistri dewi widowati, setelah melihat shinta , rahwana menganggap shinta adalah titisan dewi widowati yang selama ini di cari-carinya.
Rama, shinta dan leksmana (adik rama) melakukan perjalanan sampai hutan dandaka, rahwana mengubah pengikutnya menjadi kijang kencana. Melihat kijang elok tersebut shinta meminta rama untuk menangkapnya, dikejarlah kijang tersebut oleh rama.

Lama rama tidak kembali shinta menyuruh laksamana untuk mencari rama, sebelum pergi laksmana membuat lingkaran magis untuk shinta. Rahwana mengetahui shinta seorang diri ingin menculik nya tetapi gagal karena lingkaran magis laksmana. Rahwana mencari akal dengan merubah dirinya menjadi brahmana tua ketika shinta mendekati untuk memberi sedekah dan keluar dari lingkaran, ditariklah shinta dan di bawa ke alengka oleh rahwana.Rama yang berhasil menangkap kijang kencana ternyata kijang tersebut berubah menjadi raksasa sehingga terjadilah perang dengan rama. Raksasa kijang itu terpanah oleh rama, leksmana yang menyusul rama mengajak segera kembali menemui shinta. ketika kembali rama kaget karena shinta hilang berdasarkan cerita dari garuda yang bernama Jatayu rama mengetahui shinta di culik oleh rahwana. Dalam kesedihannya datang hanuman kera putih yang di utus oleh pamannya sugriwa untuk mencari dua kesatria untuk dapat mengalahkan subali. Akhirnya rama membantu mengalahkan subali.


Karena jasa rama yang telah mengalahkan subali , sugriwa mengutus hanuman untuk membantu rama mencari shinta, Hanuman pergi kekerajaan alengka untuk menemui shinta, di sana hanuman membuat onar untuk mengetahui kekuatan kerajaan alengka, hanuman tertangkap oleh indrajid putra rahwana dan di bakar hidup-hidup. Bukannya mati hanuman dengan api tersebut membakar kerajaan alengka (Cerita ini terkenal dengan nama Hanuman Obong)


Hanuman kembali kepada rama, Rama berserta pasukan kera berangkat ke kerajaan alengka, dalam perang brubuh tersebut rahwana gugur terpanah oleh rama dan di himpit gunung sumawan yang di bawa hanuman. Setelah rahwana mati, diantar hanuman, Shinta menghadap rama, Tetapi rama menolak karena menganggap shinta telah ternoda selama berada di alengka. Maka rama minta bukti kepada shinta untuk membuktikan kesuciannya, dengan sukarela shinta bakar diri, karena kebenarannya, kesucian shinta dan pertolongan dewa api, shinta selamat dari api. Setelah terbukti kesuciannya, rama menerima kembali shinta dengan perasaan haru dan bahagia.

Demikian sekelumit cerita Ballet Ramayana. Selain di Purawisata, sendratari ramayana dapat pula di saksikan di Komplek Candi Prambanan.

Setelah pertujukan selesai, beberapa peserta memanfaatkan waktu untuk berfoto dengan para pemain.






Kegiatan wisata belum berakhir sampai di sini. Peserta kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat untuk melanjutkan acara ke esokan harinya yaitu wisata belanja ke Pasar Bringhardjo dan Malioboro.

JALAN MALIBORO

Jalan Malioboro adalah saksi sejarah perkembangan Kota Yogyakarta dengan melewati jutaan detik waktu yang terus berputar hingga sekarang ini. Membentang panjang di atas garis imajiner Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi. Malioboro adalah detak jatung keramaian kota Yogyakarta yang terus berdegup kencang mengikuti perkembangan jaman. Sejarah penamaan Malioboro terdapat dua versi yang cukup melegenda, pertama diambil dari nama seorang bangsawan Inggris yaitu Marlborough, seorang residen Kerajaan Inggris di kota Yogjakarta dari tahun 1811 M hingga 1816 M. Versi kedua dalam bahasa sansekerta Malioboro berarti “karangan bunga” dikarenakan tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Lebih dari 250 tahun yang lalu Malioboro telah menjelma menjadi sarana kegiatan ekonomi melalui sebuah pasar tradisional pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Dari tahun 1758 – sekarang Malioboro masih terus bertahan dengan detak jantung sebagai kawasan perdagangan dan menjadi salah satu daerah yang mewakili wajah kota Yogyakarta. (kotajogja.com).

Sepanjang jalan Malioboro adalah penutur cerita bagi setiap orang yang berkunjung di kawasan ini, menikmati pengalaman wisata belanja sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat lain. Pengalaman lain dari wisata belanja ini ketika terjadi tawar menawar harga, dengan pertemuan budaya yang berbeda akan terjadi komunikasi yang unik dengan logat bahasa yang berbeda. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya. Tak lupa mampir ke Pasar Beringharjo, di tempat ini kita banyak dijumpai beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Di pasar ini kita bisa menjumpai produk dari kota tetangga seperti batik Solo dan Pekalongan. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.

Sayangnya waktu yang disediakan di tempat ini hanya 2 jam, sehingga tidak seluruhnya area malioboro dapat dikunjungi. Walau demikian acara kebersamaan yang berakhir di tempat ini, diharapkan dapat menjadi perenungan bagi kita bahwa selama ini kita hanya sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa peduli dengan rekan sekerja yang membutuhkan support dan berbagi pengalaman dalam tugas pelayanan sebagai tenaga pendidik di YBPK GKPB. Semoga kegiatan ini dapat diambil manfaatnya dan menjadi penyemangat kita untuk terus berkarya dalam mendidik anak-anak bangsa dan juga bagi kemuliaan nama Tuhan.

Sampai bertemu di acara kebersamaan mendatang. Tuhan selalu menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan kita dan berkatNya senantiasa mencukupkan kita dalam menjalani hidup bersama keluarga dan sesama. Amin. Tuhan Memberkati.

Jumat, 11 Mei 2012

BULAN PENDIDIKAN GKP 2012



Salah satu tugas panggilan pelayanan Gereja Kristen Pasundan adalah bidang pendidikan yang saat ini diselenggarakan oleh Yayasan Badan Pendidikan Gereja Kristen Pasundan Bandung (YBPK GKPB). Pelayanan di bidang pendidikan ini merupakan upaya nyata kehadiran GKP di tengah masyarakat untuk turut serta “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

YBPK GKPB yang sebelumnya dikenal dengan Yayasan BPPK GKP (Badan Perguruan dan Pendidikan Kristen GKP) saat ini hadir di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan sekolah-sekolah dari berbagai jenjang yaitu: Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Agar kehadiran layanan pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat luas maka YBPK GKPB terus melakukan peningkatan mutu layanan pendidikan melalui 7 program strategis yaitu: Perbaikan Sarana Prasarana, Peningkatan Mutu dan Nilai Pendidikan, Peningkatan Kesejahteraan Guru dan Karyawan (SDM), Penataan Organisasi, Penggalangan Dana, Kemitraan Lingkup GKP dan Kemitraan non GKP.

Melalui Bulan Pendidikan GKP diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi segenap bagian GKP untuk dapat merefleksikan kembali makna kehadiran Gereja melalui penyelenggaran layanan pendidikan yang dilaksanakan oleh YBPK GKPB. Lebih jauh dari itu kiranya segenap bagian GKP dan masyarakat luas dapat memberikan kontribusi dalam upaya penyelenggaraan pendidikan.

Kamis, 26 Mei 2011

TIADA KATA BERHENTI UNTUK BELAJAR

Oleh: Pdt. Agustria Empi, Drs. M.Min.

Manusia adalah mahluk yang belajar., bahkan ada suatu ungkapan yang menyatakan : “ dari rahim ibu sampai liang lahat, manusia belajar”. Karena belajar adalah proses yang terus-menerus berlangsung seiring dengan perjalanan hidup manusia, sebagaimana ungkapan diatas, belajar terus terjadi dari mulai rahim ibu sampai liang lahat. Untuk apa manusia belajar ? Seorang penulis di bidang pendidikan pernah menyebutkan beberapa faktor yang menjadi pendorong mengapa manusia memiliki keinginan untuk belajar, yaitu:
• Adanya rasa ingin tahu
• Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan
• Segala aktivitas manusia didasari atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan dasar, biologis sampai aktualisasi diri ( mengutip istilah Abraham Maslow)
• Untuk meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri
• Adanya keinginan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya
• Untuk melakukan perubahan dan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuainya.
Nah, dari faktor-faktor pendorong ini dapat dikatakan bahwa belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia.

Apa pengertian belajar? Belajar adalah proses dimana seseorang mengubah pandangan tentang dirinya dan lingkungannya, demikian kata teori Persepsi. Belajar adalah proses mengkondisikan perilaku dengan dorongan dari lingkungannya, itu kata teori Behavioristik. Belajar adalah rekonstruksi mental dengan konfigurasi yang berbeda, demikian pendapat teori Gestalt. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Tentunya masih banyak pendapat teori-teori tentang belajar yang bisa diungkapkan disini. Namun, ada satu hal yang dapat disimpulkan dari kata belajar, yaitu: Perubahan. Manusia yang belajar adalah manusia yang mengalami perubahan, pastinya perubahan ke arah yang baik dan positif. Belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup ( dari rahim ibu sampai liang lahat ), karena itu proses belajar berubah ke arah yang baik pun harus dilakukan manusia sepanjang ia hidup. Nah, dalam kontek ini pojok renungan kita kali ini diberi judul : tiada kata berhenti untuk belajar.

Belajar berubah ke arah yang lebih baik tentunya dimaksudkan perubahan-perubahan yang mencakupi: perubahan pikiran, yaitu dengan menambah informasi-informasi, menganalisis, mengkritisi, menata ulang dan mengaplikasikannya. Kedua, perubahan perasaan, yaitu tentang nilai-nilai hidup yang patut kita pahami, yakini dan terapkan. Ketiga, perubahan perilaku, yaitu perubahan tingkah laku dan perbuatan, cara kerja, gaya hidup dan pola hidup yang diimplementasikan dalam hidup keseharian. Oleh karena itu, belajar berubah ke arah yang lebih baik sebagai proses belajar yang tiada pernah berhenti yang dimaksud disini adalah perubahan yang holistik, yaitu perubahan pikiran, perasaan dan perilaku. Belajar adalah proses untuk mencapai hasil kecerdasan, baik intelektual, emosional, sosial dan spiritual.

Seringkali orang berpandangan bahwa belajar, baik formal maupun non-formal adalah untuk menghasilkan kecerdasan intelektual semata - untuk menambah ilmu pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tahu menjadi lebih tahu. Betul itu belajar. Tapi belajar dalam kontek yang seperti ini tidak akan menghasilkan manusia yang baik. Kenapa? Karena manusia bukan saja mahluk intelektual, tetapi juga mahluk emosional, sosial dan spiritual. Apalagi belajar yang hanya bertujuan untuk mendapat ijazah, kedudukan, pangkat, jabatan, kekayaan – belajar seperti itu akan berhenti ketika semuanya itu tercapai.

Tiada kata berhenti untuk belajar adalah sebuah panggilan hidup. Panggilan kehidupan yang Tuhan berikan dan percayakan kepada manusia untuk menjaga dan memelihara kehidupan. Untuk mewujudkan keadilan, kedamaian dan keutuhan ciptaan bagi bumi dan seluruh alam semesta. Panggilan Tuhan itu sebagaimana yang dinyatakan :”Berfirmanlah Allah, baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan, diciptakanNya mereka”. ( Kejadian 1:26-27)
Karena itu, hakekat dan tujuan belajar yang paling hakiki adalah pemenuhan panggilan Tuhan kepada manusia sebagai mahluk yang diciptakan ”Imago Dei”. Berkuasa(artinya: menjaga dan memelihara) bumi, alam semesta dan kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Tidak pernah berhenti untuk belajar. Belajar apa? Belajar tentang tahu diri, belajar tahu tentang sesama, belajar bijak, belajar jujur, belajar taat, belajar setia, belajar rendah hati, belajar mengampuni, belajar tanggap, belajar memiliki kepekaan, belajar memiliki integritas, belajar memiliki kepedulian, belajar tiada henti untuk menuju keprimaan, belajar bertanggung-jawab atas ” kuasa ” yang telah dipercayakan Tuhan. Puncak tertinggi dari semua itu adalah, belajar mencari kehendak Tuhan, belajar melakukan kehendakNya, seperti ungkapan doa sang Pemazmur : ” ajarkanlah aku melakukan kehendakMU ( Mazmur 143: 10 ).










Selasa, 22 Maret 2011

HATI MELAYANI *)

"Tanpa kepemimpinan, organisasi tidak dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah cepat. Namun, jika pemimpin tidak memiliki hati melayani, maka hanya ada potensi untuk bangkitnya sebuah tirani," ( John P. Kotter dan James E. Heskett) dalam Corporate Culture and Performance. Dengan kalimat tersebut Kotter dan Heskett mengingatkan kita tentang konsep kepemimpinan yang melayani; sebuah konsep kepemimpinan yang digagas secara mendalam oleh almarhum Robert K. Greenleaf, mantan eksekutif AT&T dan dosen di berbagai universitas terkemuka seperti MIT dan Harvard Business School, yang juga peneliti dan konsultan terkenal di Amerika.

Dalam salah satu karya terbaiknya yang bertajuk Servant Leadership (1977) ––sebuah karya yang mendapat sambutan hangat dan pujian tokoh-tokoh sekaliber Scott Peck, Max De Pree, Peter Senge, Warren Bennis, dan Danah Zohar–– Greenleaf antara lain mengatakan, "… the great leader is seen as servant first, and that simple fact is the key to his greatness". Perhatikan bahwa Greenleaf menekankan "servant first" dan bukan "leader first". Seorang pemimpin biasa menjadi pemimpin besar dengan cara melihat dirinya pertama-tama dan terutama sebagai pelayan dan bukan pemimpin. Ia pemimpin juga, tentu. Namun hatinya terutama dipenuhi oleh hasrat melayani konstituennya, melayani pengikutnya, melayani publik atau rakyat yang mengangkatnya menjadi pemimpin. Artinya, jabatan kepemimpinan diterima sebagai konsekuensi dari keinginan yang tulus ikhlas untuk melayani konstituen dan bukan untuk kepentingan egoistik dan selfish, bukan ambisi pribadi yang berangkat dari keinginan berkuasa.

Bila dirunut lebih jauh ke belakang, sosok pelayan sebagai pemimpin dapat kita temukan dalam berbagai ajaran pendiri agama-agama besar. Tak seorang pun di antara guru umat manusia itu yang tidak mendemonstrasikan jiwa dan semangat melayani para konstituen yang mengikutinya dengan tulus hati dan setia, nyaris tanpa pamrih material. Mereka tidak berusaha mengejar jabatan kepemimpinan dulu dan kemudian belajar melayani, melainkan mereka melayani dulu untuk kemudian diterima, diakui, dan diangkat sebagai pemimpin (ini bukan tujuan, tapi konsekuensi) . Jadi, pertama-tama dan terutama mereka melihat diri mereka sebagai "pelayan", khususnya pelayan atau hamba Allah Yang Maha Esa. Dan karena Allah "mengutus" mereka ke dunia, maka demi Allah mereka melayani manusia yang diciptakan Allah itu, sebagai homo Imago Dei .

Pada titik ini kita melihat bagaimana ajaran-ajaran agama mulai (kembali) ditemukan relevansinya untuk dapat diaplikasikan dalam konteks wacana kepemimpinan milenium ketiga. Berbagai ajaran "sesat" yang membuang agama ke pinggir arena kehidupan terbukti keok di tengah jalan (komunisme adalah contoh yang nyata). Ada kehausan spiritual yang nyata dalam masyarakat modern dan pasca modern setelah berbagai "eksperimentasi" dalam memposisikan manusia—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—sebagai the idiological man-nya Orde Lama, the mechanistic man-nya Orde Baru, fragmented man-nya Orde Reformasi, selfish man-nya Hobbes, man of commodity-nya Marx, maupun man of nature-nya Rousseau, atau digital man dan man of speed-nya generasi elektronik, yang ternyata justru menciptakan inhuman realities dan inhuman system.

Kembali ke Ordo Creatio
Kita tahu bahwa untuk kurun waktu yang sangat lama, pemimpin acapkali dipahami sebagai suatu jabatan atau kedudukan elitis yang menuntut dilayani dan bukan melayani. Dengan demikian, mereka yang menjadi pemimpin dianggap (dan menerima anggapan bahwa dirinya) berhak untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan dalam tradisi Barat maupun Timur, pemimpin seringkali dianggap keturunan dewa atau wakil Tuhan yang tak boleh diganggu gugat (leaders can do no wrong). Pemimpin ditempatkan sebagai manusia dari "kasta tertinggi" sementara konstituennya adalah "kasta terendah" yang harus menerima diperlakukan sebagai "alat", "organ", atau "obyek". Pandangan ini "berhasil' melestarikan status quo raja-raja dan penguasa yang lalim dan sewenang-wenang. Namun dewasa ini pandangan yang demikian telah kehilangan argumentasi untuk dapat dipertahankan. Kesetaraan dalam hubungan antar manusia telah menjadi kesadaran global yang menolak penempatan manusia yang satu di atas manusia yang lain, atas dasar apapun (jenis kelamin, agama, suku, warna kulit, "barat", "timur", dsb).

Jika benar demikian, maka dalam konteks kepemimpinan kita perlu mengaudit kembali citra diri (self image) para pemimpin kita. Kita harus menolak siapa saja yang mempersepsi dirinya sebagai "manusia unggul", "manusia superior", manusia yang merasa "can do no wrong".

Sebaliknya, kita perlu mencari mereka yang menerima hierarki ordo creatio yang menempatkan ditempat tertinggi hanya Allah semata, yang menempatkan manusia ditempat kedua sebagai homo Imago Dei, dan yang menempatkan ditempat ketiga alam semesta sebagai sumberdaya yang harus dikelola secara arif dan bertanggung jawab. Allah adalah Sang Pencipta dan Sang Pemimpin (dengan P besar). Manusia adalah ciptaan yang dicipta dengan potensi daya cipta (creative creature) yang memungkinkan ia menjadi pemimpin (dengan p kecil). Dan alam semesta diciptakan bagi manusia agar manusia itu menjadi manusiawi dengan berbakti kepada Sang Pemimpin semata.

Kesadaran yang tinggi terhadap kesetaraan manusia sebagai sesama ciptaan menempatkan semua manusia sebagai mahluk yang harus mempertanggungjawab kan setiap kata dan perbuatannya kepada Sang Pencipta dan Sang Pemimpin. Dan kesadaran yang demikian hanya mungkin muncul dari hati nurani (conscience) yang bersih, hati nurani yang menuntun akal budi, dan baik hati nurani maupun akal budi itulah yang pada gilirannya menuntun perilaku manusia agar sungguh-sungguh manusiawi.

Semoga kecerdasan spiritual dan semangat melayani itu kembali merekah di hati para pemimpin.

*) Andrias Harefa; Penggagas Visi Indonesia 2045; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun; Penulis 35 Buku Best-seller.

Sabtu, 04 September 2010

RUNTUHNYA LOYALITAS GURU


Loyalitas guru-guru terhadap tugasnya sudah begitu parah ?. Sering kita mendengar sebagian guru-guru berpendapat bahwa umumnya guru-guru berambisi untuk masuk ke jalur struktural sekolah, baik sebagai wakil Kepala Sekolah, Pokja, Wali Kelas, dst. Tetapi menurut saya asumsi itu tidak signifikan. Kalau pun ada, saya berpendapat paling tinggi angkanya hanya 5% saja dari Total jumlah guru yang ada.
Dalam banyak kesempatan dalam obrolan-obrolan santai dengan guru-guru saya sering menyatakan hal ini. Secara kasar, bagi saya ada 3 kelompok guru dalam kaitannya dengan struktural sekolah. Pertama adalah guru-guru yang memang berambisi untuk duduk di kursi struktural sekolah. Jumlah guru-guru yang termasuk dalam kategori ini paling sedikit. Kedua adalah kebalikannya, yaitu guru-guru yang merasa bahwa jabatan struktural itu adalah suatu beban, baik karena merasa tidak mampu, karena malas, maupun karena merasa rugi (sebab waktu luangnya jadi sempit). Kelompok ini adalah kelompok yang paling banyak. Ketiga adalah guru-guru yang bersikap netral. Kalau diberi tugas tambahan OK, kalau tidak juga tidak masalah. Dilihat sepintas dari permukaan kelompok ini tampak tidak bermasalah, tetapi kalau ditinjau lebih dalam kondisinya mungkin tidak seragam: bisa karena memang sadar akan tanggung jawab, bisa juga karena tidak mampu menolak, dsb. Kelompok ini juga sangat sedikit, sama dengan kelompok yang pertama.
Menurut saya sistem penugasan terhadap tugas tambahan sekolah hendaknya bisa menampung berbagai kondisi guru-guru, minimal ketiga kondisi ini. Jika tidak, maka akan semakin melemahlah kesadaran guru-guru akan tanggung jawabnya untuk keberlangsungan apalagi kemajuan sekolah.
Kondisi guru-guru saat ini berbeda dengan kondisi guru-guru tempo dulu. Guru-guru dulu hampir merata sangat loyal dan tulus terhadap pekerjaannya. Hidup sederhana dan tidak neko-neko, dst. Tetapi guru-guru sekarang secara umum kebalikannya. Singkat cerita, berbagai senjata motivasi yang ampuh untuk guru-guru dulu tampaknya sudah tidak mempan lagi untuk mendongkrak gairah pengabdian guru-guru sekarang. Mau dibujuk dengan pangkat (kredit poin) banyak guru-guru sekarang sudah mulai tidak peduli dengan iming-iming pangkat. Yang penting gaji tetap diterima dan tidak dipotong. Karena toh selisih gaji setelah naik pangkat tidak begitu berarti dibanding beban tugas dan waktu yang dikuras karena jabatan ini itu. Mau dibujuk dengan honor tugas tambahan, sebagian guru-guru sudah memiliki usaha sampingan di luar sekolah, bahkan penghasilan tambahannya ada yang melebihi gajinya sebagai guru. Artinya honor yang ditawarkan tugas tambahan sekolah sangat tidak menggiurkan. Kemudian kalau dibujuk dengan tugas adalah sebuah pelayanan atau pengabdian, sudah hampir merata guru-guru sekarang tidak takut lagi dengan seruan-seruan moral seperti itu.
Beragam pendapat bermunculan kenapa loyalitas guru semakin hari semakin menurun. Ada yang berpendapat (ini pendapat yang paling banyak terdengar) karena gaji guru masih kurang, tidak mencukupi. Ada pula yang berpendapat karena murid-murid yang masuk umumnya memang tidak punya kemauan untuk belajar. Apalagi motivasi mereka masuk ke sekolah ini hanya sebagi pelarian karena tidak diterima di sekolah lain, sehingga guru-guru pun kurang termotivasi oleh kondisi siswa-siswa yang demikian. Kemudian ada lagi yang berpendapat karena korupsi sudah merajalela dimana-mana, termasuk juga ke sekolah-sekolah. Akhirnya guru-guru masa bodoh: “Buat apa susah-susah, toh orang-orang di atas enak-enak saja korupsi”. Terakhir yang tidak kalah penting ada yang berpendapat bahwa semuanya adalah gara-gara keruntuhan moral. Bagaimanapun kuncinya adalah moral. Sebaik dan sebagus apa pun sebuah sistem, selagi moral orang-orangnya tidak beres maka hasilnya tetap saja tidak beres.
Saya berpendapat tidak mudah untuk menyimpulkan penyebab yang sebenarnya. Karena semua itu adalah akumulasi dari berbagai hal. Tidak mungkin suatu gejala hadir tiba-tiba begitu saja sendiri. Tentu ada mata rantai penyebab yang saling kait berkait, seperti sebuah jejaring yang sangat kompleks, dan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga sudah mirip dengan lapisan-lapisan bebatuan. Bermimpi dapat merubah semua ini dalam sekejap dengan sebuah rumus standar hanyalah sebuah ilusi belaka.
Tetapi meratapi keadaan ini tentu juga tidak ada gunanya. Mengeluhkan semua carut marut ini tidak akan membawa situasi kemana-mana., bahkan hanya akan menambah masalah. Padahal kondisi lembaga yang bernama sekolah ini sudah bagaikan kapal besar yang terancam tenggelam, karena disana sini sduah penuh dengan lobang-lobang kebocoran.
Secara gamblang ada dua pilihan menurut saya. Pertama, semua warga sepakat untuk menenggelamkan betul kapal sekolah ini. Marilah kita sama-sama tidak mau tahu, atau saling memperbanyak lobang di lantai, di dinding, dan dimana saja disetiap badan kapal, sehingga lebih cepat tenggelam dan berakhir. Kedua, dengan kesadaran bahwa kita sedang terancam tenggelam, marilah masing-masing kita sama-sama bekerja untuk menahan laju tenggelammnya. Minimal untuk bertahan!
Inilah yang saya tuju sebenarnya, dalam satu kata: giliran! Apa pun bentuknya tugas-tugas tamnbahan dari sekolah hendaknya dalam bentuk giliran. Tadi sudah dijabarkan bahawa 3 senjata untuk membujuk loyalitas guru-guru sudah keok (Pangkat, honor, pengabdian). Inilah saatnya untuk mengembalikan segala persoalan keasalnya. Inilah konsekwensi profesi, bahwa setiap guru harus ikut berpartisipasi terhadap tanggung jawab tugas tambahan secara bergiliran. Pengecualian hanya untuk hal-hal yang benar-benar bisa ditolerir. Itu pun sebaiknya diiringi dengan konsekuensi yang jelas dan dimaklumi bersama.
Saya tidak mengatakan ini adalah rumus pamungkas yang mujarab. Tetapi paling tidak, ini bisa menampung dan meredam berbagai bias kemungkinan penurunan loyalitas. Untuk guru-guru yang memang ingin berkarir, saat mengemban tugas dapat dijadaikan sebagai ajang yang tepat untuk menunjukkan dan menikmati kebolehannya. Sebaliknya bagi guru-guru yang merasa tugas tambahan sebagai beban, saat itulah dia ikut merasakan bagaimana suka dukanya mejalankan tugas tersebut. Pengalaman nyata itu akan memancing mnculnya kesadaran dan pengertian baru, yang selama ini mungkin tidak pernah dirasakannya ketika dia hanya sebagai penonton saja (maklum penonton biasanya suka usil dan merasa lebih pintar dari pemain). Dan terkhir bagi guru-guru yang bersikap netral, sistim giliran ini bisa menjadi katup pengaman bagi lunturnya ketulusan pengabdiannya. Karena ia merasa ada keadilan. “Untuk apa saya harus merasa kesal, marah, cemburu dan mengumpat dalam menjalankan tugas. Toh yang lain pun nanti juga akan mendapat giliran yang sama seperti saya”.
Bukan seperti yang selama ini terjadi. Guru-guru tertentu terlalu sering mendapat tugas tambahan, baik karena memang ingin berprestasi maupun karena tidak kuasa menolak. Sebaliknya guru-guru tertentu sangat jarang bahkan ada yang tidak pernah disentuh oleh tugas tambahan, baik karena tidak diberi kesempatan, tidak mampu maupun karena tidak mau tahu. Bagi yang ingin berkarir, mendapat tugas tambahan tentu tidak jadi masalah, malah itu suatu kesempatan yang diinginkan. Tetapi bagi yang merasa tugas tambahan sebagai beban tentu ia merasa dirugikan. Ia sibuk mengerjakan beban tugas sekolah (yang pada prinsipnya untuk kepentingan bersama), sementara sebagian guru-guru dapat bersenang-senang menikmati waktu luangnya, bahkan ada yang berkesempatan membangun usahanya sedemikian suksesnya, karena waktu luang yang tersisa sangat banyak. Persoalannya bukan iri karena akan kesuksesan orang lain, tetapi karena tidak adanya keadilan. Tidak adanya sistem yang menjamin pemerataan, baik terhadap giliran maupun kompensasi yang setimpal. Jangan-jangan bagi yang merasa sebagai beban diam-diam itu dirasakan sebagai eksploitasi terhadap ketulusan.
Menurut saya, metode giliran bisa menjadi alternatif dari kebuntuan ini. Mungin pada awalnya banyak pro dan kontra, tetapi jika ini dilaksanakan secara konsisten, besar kemungkinan akan muncul kesadaran pada masding-masing guru bahwa tugas tambahan ini memang harus kita terima dan maklumi dengan sportif. Toh semua orang mendapat kesempatan dan giliran, malu dong saya sendiri ngotot untuk mengelak. Secara tidak langsung guru-guru yang bertugas menyusun daftar-daftar tugas tambahan (wali kelas, piket, Pembina upacara, dan tugas-tugas dalam suatu kepanitianaan) tidak akan menerima keluhan dan penolakan lagi dari guru-guru yang ditugaskan. Paling tidak, sistem ini berpeluang untuk meredam konflik horizontal antara guru-guru yang duduk di struktural dengan guru-guru biasa.
Memang ada yang berpendapat bahwa tidak semua guru mampu mengemban tugas tambahan, apalagi di struktural seperti Wakil Kepala Sekolah, Pokja dan Ketua Jurusan misalnya. Menurut saya justru disinilah momen yang tepat dan murah untuk pengembangan SDM guru. Melalui wadah tugas tambahan inilah guru-guru benar-benar ditempa dirinya secara menyeluruh, baik wawasan, kecakapan teknis maupun kepribadiannya. Dalam suatu tim struktural bisa dikombinasikan beberapa guru dengan tingkat kecakapan dan pengalaman yang bervariasi: ada yang sudah berpengalaman, ada yang belum, ada yang sudah cakap dan ada yang belum, dst. Dalam bekerja mereka biasa saling isi mengisi.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin ini bisa dilakukan? Bukankah siapa yang akan duduk di struktural misalnya adalah hasil pemilihan? Siapa pun tidak bisa meramalkan siapa yang akan terpilih. Kalau pun ada lobi-lobi itu pun juga tidak ada jaminan. Menurut saya, dalam pemilihan, beberapa nama yang sudah menjabat pada periode sebelumnya dikeluarkan sebagai calon yang tidak boleh dipilih lagi. Tentu saja nama-nama yang sudah boleh istirahat dan yang tidak itu harus melalui aturan main yang jelas, sehingga bisa diterima dan dimaklumi bersama. Singkatnya masalah teknis ini bisa diatur sedemikian rupa jika sistem giliran ini diterima sebagai alternatif.
Mungkin ada lagi yang membantah, bukankah semua ini sudah ada aturannnya secara resmi. Siapa yang layak dan berhak di struktural dan tugas tambahan sudah ada syarat-syaratnya. Jadi kita tidak perlu lagi membuat aturan-aturan baru. Ikuti saja sesuai juklak dan juknisnya. Kalau dilaksnakan dengan cara lain nanti bisa digolongkan menyalahi aturan yang sudah jelas. Secara teori itu betul. Tetapi dalam praktek sebuah teori bisa kurang relevan bahkan mungkin pada kondisi tertentu teori itu tidak ada artinya. Karena bagaimana pun setiap situasi adalah unik. Jadi tidak mungkin sebuah aturan bisa menjawab semua persoalan di lapangan. Artinya sebuah aturan tidak cukup dipahami dan dijalani secara kaku. Bukankah inspirasi penyusunan peraturan-peraturan juga diambil dari pengalaman-pengalamn di lapangan. Jangan-jangan pendapat yang bersikukuh dengan dalih peraturan itu hanya sebagai pantulan dari kemalasan dan ketidak berdayaan berpikir dalam mencari solusi-solusi alternatif terhadap persoalan-persoalan di lapangan.
Terakhir, jika sistem ini diterima, untuk menjaga keberlangsungannnya perlu pengawasan dari Kepala Sekolah. Ini termasuk faktor yang sangat menentukan, walaupun sudah lazim kita mendengar bahwa antara guru dan Kepala Sekolah sering terjadi saling lempar kesalahan. Menurut guru-guru , apapun persoalan yang terjadi di sekolah adalah gara-gara kegagalan seorang kepala sekolah dalam memimpin sekolahnnya. Lalu sebaliknya Kepala sekolah berpendapat bahwa kesadaran guru-guru akan tanggung jawab masih rendah. Jika kesadaran guru-guru sudah baik ia yakin ini tidak akan terjadi. Tugas kepala sekolah bukan mengurusi ini itu dari A sampai Z, tetapai hanya sebagai tukang koordinir. Pelakunya adalah guru-guru. Bagaimana hasilnya ya tergantung pada pelaksananya.
Menurut saya kedua-duanya bisa betul dan bisa salah, tergantung sudut pandang yang digunakan. Para pakar politik sering mengatakan bahwa kondisi warga negara kita masih bercorak paternalistik. Perbuatan warga Negara sangat tergantung pada perbuatan pemimpinnya. Kalau sang Bapak (pemimpin) rajin maka rajinlah anaknya. Tapi kalau Bapaknya malas ya malaslah anaknya. Kalau Bapaknya korupsi ya korupsilah anaknya, dan begitulah seterusnya. Inilah faktanya. Dari sudut pandang ini maka seorang Kepala Sekolah tidak boleh menunggu guru-guru rajin dan loyal dulu baru kemudian dia mengikuti. Tetapi Kepala Sekolah harus memulai terlebih dahulu apa yang ingin diikuti dan ditiru oleh guru-guru. Kalau Kepala Sekolah malas turun gotong royong jangan harap guru-guru akan rajin gotong royong. Kalau Kepala Sekolah enggan melakukan pendekatan pribadi pada guru-guru maka jangan heran kalau guru-guru juga membalas dengan perbuatan yang setimpal. Singkatnya dalam pandangan paternalistik, Kepala Sekolah adalah sang nabi di suatu sekolah, yang harus menjadi contoh steril dari guru-guru.
Memihak pada salah satu sisi dalam persoalan ini sama dengan menolak salah satu sisi dari mata uang. Tidak mungkin satu faktor berdiri tunggal dengan gagah perkasa. Tentu ada interaksi timbul balik antara guru dan Kepala Sekolah. Hanya saja secara mekanisme lembaga tentu saja Kepala Sekolah yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah sekolah. Ini bukan berarti guru tidak mengemban tanggung jawab sama sekali, tetapi dalam bentuk dan proporsi yang berbeda.
Yang jelas, bagaimanapun pentingnya seruan-seruan moral, tanpa dukungan sistem yang memadai, loyalitas guru-guru akan mudah runtuh oleh berbagai hal . Paling tidak, disinilah sistem giliran tanggung jawab ini menjadi alternatif. Jika sistem ini dijalankan dengan konsisten, mungkin tingkat kebandelan guru-guru bisa ditekan seoptimal mungkin. Karena semua guru akhirnya saling maklum bahwa inilah konsekuensi yang harus dimaklumi. Suka tidak suka, semuanya harus menerima dengan sportif. Hanya guru-guru yang benar-benar berhati brensek saja yang tidak mau berpartisipasi dalam sebuah tanggung-jawab bersama, dan jumlahnya tentu sangat sedikit
Menurut saya secara perlahan, dalam jangak panjang, sistem ini akan membantu Kepala Sekolah dalam meringankan beban untuk bersusah payah mengontrol kinerja guru-guru, karena guru-guru tidak punya alasan lagi untuk menolak dan tidak bertugas dengan optimal.
Penulis : Erianto, S.Pd, (SMKN 4 Padang).

Loyalitas/Produktifitas

Bacaan: Titus 3:1-14

...untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.- Titus 3:14


Terkadang saya cukup sebal mendengar seseorang yang membanggakan diri dengan lamanya dia bekerja di sebuah perusahaan. Menunjukkan diri sebagai karyawan paling loyal di perusahaan itu. Jangan salah sangka, saya bukannya tidak menghargai arti sebuah kesetiaan. Kesetiaan yang dibuktikan dengan lamanya waktu bekerja memang penting. Tanpa hal ini perjalanan pun akan tersendat-sendat, bahkan bisa-bisa menjadi kacau dan yang pasti, ritme perusahaan menjadi kacau. Saya acungi jempol kepada mereka yang telah teruji secara waktu.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar kata loyalitas saja, hasil kerja dan produktifitas! Apa gunanya kita membanggakan loyalitas kita yang berpuluh-puluh tahun tetapi sebenarnya tidak ada sesuatu yang dihasilkan sama sekali? Apa gunanya mendapat penghargaan sebagai karyawan paling loyal namun kita tidak pernah memberi dampak kepada perusahaan?

Tidak jarang kita bertemu dengan seseorang yang baru bekerja satu dua tahun dalam sebuah perusahaan. Namun, meski demikian prestasi kerjanya sangat membanggakan. Ia tak hanya menyelesaikan tugas dengan baik saja, tetapi ia juga mendukung kemajuan perusahaan. Laju perusahaan pun melaju cepat di tengah persaingan bisnis yang makin kompetitif. Langkah-langkah strategis yang ia ambil menentukan arah perusahaan yang makin efektif. Cara berpikirnya memberi warna tersendiri bagi perusahaannya. Menjadi kreatif dan inovatif sehingga kemajuan perusahaan pun terlihat dengan jelas!

Saya sangat yakin bahwa para owner akan berebut mendapatkan pekerja yang seperti ini, dibandingkan dengan pekerja yang memiliki stempel "loyalitas" saja. Jika Anda seorang yang sanggat bangga dengan stempel loyalitas yang Anda miliki, saya usulkan agar Anda juga bangga dengan stempel "kualitas kerja dan produktifitas". Orang dihargai bukan hanya dilihat dari sudut pandang loyalitas saja, tapi juga dari produktifitas kerjanya.

Orang dihargai bukan hanya dari loyalitas saja tapi juga produktifitas.

Sabtu, 19 Juni 2010

PELATIHAN GURU 2010

Akan dilaksanakan Pelatihan Guru 2010 kerjasama YBPK GKP dan BINA WARGA. Mohon kepada seluruh Guru dan Kepala Sekolah mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan ini, yang akan dilaksanakan pada : 
      • Hari/Tanggal, Kamis - Sabtu, 22 s/d 24 Juli 2010
      • Tempat : Hotel Yehezkiel Lembang
      • Pendaftaran dan Check In : Kamis, 22 Juli 2010, Jam 12.00 WIB s/d selesai.
Informasi lebih lanjut : Hubungi Sekretariat YBPK GKP Bandung.

PETA LOKASI :

e Book : MERDEKA BELAJAR, "Perspektif Pendidikan Kristen menuju transformasi Anak Bangsa"

PENGANTAR   (Dr. Hari Soegianto - Ketua Sekolah Tinggi Teologi SAAT)  Dinamika dalam dunia pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan z...